Monday, February 2, 2015

"Delok-Delok" Cinta

 Oleh Kyai Budi Hardjono

SEDULURKU TERCINTA,dalam ungkapan orang Jawa "delok-delok" itu maknanya "melihat-lihat",sejauh menimbang rasa terhadap sesuatu.Makanya,melihat itu sarananya bukan sekedar "mata kepala" tetapi tergantung sasarannya.Melihat warna dengan mata,melihat aroma dengan hidung,melihat suara dengan telinga,melihat nilai dengan "indra dalam" itu.Jantera alam ini digelar untuk "delok-delok" itu,sehingga "delok" bisa dijarwodosoki "ngandel mergo nyawang barang elok",artinya dibalik mentafakkuri apa yang ada ini akan menetes "keyakinan" atau "ngandel" terhadap Gusti Allah dibalik yang maujud ini yang sungguh "elok",wajibul Wujud walau "tan kinoyo ngopo",laisa kamitslihi syai'un.Gusti Kanjeng Nabi Muhammad saw sendiri mengabarkan bahwa hidup ini adalah "abirussabil",bagai pelancong yang "delok-delok" itu,melihat-lihat.Dan ini diterjemahkan oleh orang Jawa menjadi "mampir ngombe" dalam kemusafirannya.

Dalam "delok-delok" ada dua hal yang bisa diperoleh,pada satu sisi menyaksikan hal-hal yang menakjubkan dari berbagai sudut pandang dan cara pandang,pada sisi yang lain melahirkan "nyeri rindu" karena dahaga jiwa yang tidak puas atas segala "tanda-tanda" yang tergelar ini.Rindu kepada Sang Pencipta.Mustinya,orang bila menikmati semua yang ada ini maka hariannya akan terasa bagai dalam "pelaminan" selalu,yang disettingi dengan layar dan gambar yang bergerak indah ini,menjadikan setiap waktu itu baru,tidak pernah mboseni.Namun,bila nyeri rindu ini "hilang" maka semua yang ada akan dirasa menjadi "belenggu",karena "keelokan" yang ada terselubungi oleh egosentrisitas pada diri.Gambarannya bagai ada "awan" dibalik cahaya mentari dan bulan serta bintang-gemintang.Dalam "kegelapan" maka akan terjadi stagnasi dalam "kesaksian" atau proses "delok-delok" itu,bagi mata kepala akan "peteng dhedhet",bagi mata hati tidak akan bisa "delok-delok" nilai yang lebih indah dibalik yang material ini.Gelap sebagaimana malam itu tercipta karena bumi "memungggungi" cahaya matahari,demikianlah gelap hati itu karena manusia "berpaling" atau memunggungi dari Cahaya Ilahi.

Dengan demikian,manusia hidup ini sebenarnya "delok-delok" itu,terserah mana hal-hal yang disukai.Tetapi manusia harus tetap hati-hati karena hal yang disukai belum tentu berguna bagi diri,sebaliknya hal yang dibenci belum tentu jelek bagi diri.Di tengah kegelapan memandang yang "misteri" inilah,Gusti Allah tidak kurang kasih sayangnya kepada manusia,lalu menurunkan para Nabi dan Rasul itu sebagai "cerminan" atau teladan,sehingga manusia menemukan "hidayah" dan "sa'adah" dalam hidupnya.Dibalik itu,pada diri manusia sudah terdapat "bibit" dalam prosesi "delok-delok" itu,dan bibit itu bersifat "percikan" cahaya:senang terhadap kegembiraan saudara dan susah akan penderitaan saudara.Bibit Cinta ini bila dikaitkan dengan petuntuk dari Gusti Allah melalui para Nabi dan Rasul,bisa diistilahkan "tumbu oleh tutup",klop.Bagi yang "awam" akan bisa menikmati dengan apa adanya,bagi yang cerdas:biasanya malah muter-muter secara dialektika walau nanti berujung pada "kebingungan" dan akan pasrah sebagaimana orang awam itu.Disinilah pentingnya "aturan" yang dalam keberagamaan disebut "syari'at",dari sana kita bisa "delok-delok" sesuatu dan tidak akan salah pilih dalam tindakan,setiap waktu.


Kawan-kawan,setelah "delok-delok" itu tergapai maka akan muncul "marem" di rasa hingga sampai "merem-merem",dan di dalam "merem-merem" ini sebenarnya tidak "gelap" karena ada indra dalam yang "delok-delok",cuma tidak bisa tergambarkan dan terlukiskan,hanya "merem-merem" itu.Dalam pejaman mata,kita bisa melihat,delok-delok,,,,Tabik!

No comments:

Post a Comment