Monday, December 12, 2016
Sunday, December 4, 2016
Thursday, February 26, 2015
WIRID BA’DA SHOLAT SHUBUH, DHUHUR, ASHAR DAN ISYA’
TUNTUNAN PUJIAN SEBELUM SHOLAT 5 WAKTU DAN
WIRID BA'DA SHOLAT 5 WAKTU PSM TAKERAN
WIRID BA'DA SHOLAT 5 WAKTU PSM TAKERAN
TUNTUNAN PUJIAN SEBELUM SHOLAT 5 WAKTU DAN WIRID BA'DA SHOLAT 5 WAKTU PSM TAKERAN
Tuntunan Mujahaddah taubah Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM) Takeran Magetan
Download here
Tuntunan Mujahaddah taubah Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM) Takeran Magetan
Download here
Monday, February 2, 2015
"Delok-Delok" Cinta
Oleh Kyai Budi Hardjono
SEDULURKU TERCINTA,dalam
ungkapan orang Jawa "delok-delok" itu maknanya
"melihat-lihat",sejauh menimbang rasa terhadap
sesuatu.Makanya,melihat itu sarananya bukan sekedar "mata kepala"
tetapi tergantung sasarannya.Melihat warna dengan mata,melihat aroma dengan
hidung,melihat suara dengan telinga,melihat nilai dengan "indra
dalam" itu.Jantera alam ini digelar untuk "delok-delok"
itu,sehingga "delok" bisa dijarwodosoki "ngandel mergo nyawang
barang elok",artinya dibalik mentafakkuri apa yang ada ini akan menetes
"keyakinan" atau "ngandel" terhadap Gusti Allah dibalik
yang maujud ini yang sungguh "elok",wajibul Wujud walau "tan
kinoyo ngopo",laisa kamitslihi syai'un.Gusti Kanjeng Nabi Muhammad saw
sendiri mengabarkan bahwa hidup ini adalah "abirussabil",bagai pelancong
yang "delok-delok" itu,melihat-lihat.Dan ini diterjemahkan oleh orang
Jawa menjadi "mampir ngombe" dalam kemusafirannya.
Dalam
"delok-delok" ada dua hal yang bisa diperoleh,pada satu sisi
menyaksikan hal-hal yang menakjubkan dari berbagai sudut pandang dan cara
pandang,pada sisi yang lain melahirkan "nyeri rindu" karena dahaga
jiwa yang tidak puas atas segala "tanda-tanda" yang tergelar
ini.Rindu kepada Sang Pencipta.Mustinya,orang bila menikmati semua yang ada ini
maka hariannya akan terasa bagai dalam "pelaminan" selalu,yang
disettingi dengan layar dan gambar yang bergerak indah ini,menjadikan setiap
waktu itu baru,tidak pernah mboseni.Namun,bila nyeri rindu ini
"hilang" maka semua yang ada akan dirasa menjadi "belenggu",karena
"keelokan" yang ada terselubungi oleh egosentrisitas pada
diri.Gambarannya bagai ada "awan" dibalik cahaya mentari dan bulan
serta bintang-gemintang.Dalam "kegelapan" maka akan terjadi stagnasi
dalam "kesaksian" atau proses "delok-delok" itu,bagi mata
kepala akan "peteng dhedhet",bagi mata hati tidak akan bisa
"delok-delok" nilai yang lebih indah dibalik yang material ini.Gelap
sebagaimana malam itu tercipta karena bumi "memungggungi" cahaya
matahari,demikianlah gelap hati itu karena manusia "berpaling" atau
memunggungi dari Cahaya Ilahi.
Dengan
demikian,manusia hidup ini sebenarnya "delok-delok" itu,terserah mana
hal-hal yang disukai.Tetapi manusia harus tetap hati-hati karena hal yang
disukai belum tentu berguna bagi diri,sebaliknya hal yang dibenci belum tentu
jelek bagi diri.Di tengah kegelapan memandang yang "misteri"
inilah,Gusti Allah tidak kurang kasih sayangnya kepada manusia,lalu menurunkan
para Nabi dan Rasul itu sebagai "cerminan" atau teladan,sehingga
manusia menemukan "hidayah" dan "sa'adah" dalam
hidupnya.Dibalik itu,pada diri manusia sudah terdapat "bibit" dalam
prosesi "delok-delok" itu,dan bibit itu bersifat "percikan"
cahaya:senang terhadap kegembiraan saudara dan susah akan penderitaan
saudara.Bibit Cinta ini bila dikaitkan dengan petuntuk dari Gusti Allah melalui
para Nabi dan Rasul,bisa diistilahkan "tumbu oleh tutup",klop.Bagi
yang "awam" akan bisa menikmati dengan apa adanya,bagi yang
cerdas:biasanya malah muter-muter secara dialektika walau nanti berujung pada
"kebingungan" dan akan pasrah sebagaimana orang awam itu.Disinilah
pentingnya "aturan" yang dalam keberagamaan disebut
"syari'at",dari sana kita bisa "delok-delok" sesuatu dan
tidak akan salah pilih dalam tindakan,setiap waktu.
Kawan-kawan,setelah "delok-delok" itu tergapai maka
akan muncul "marem" di rasa hingga sampai "merem-merem",dan
di dalam "merem-merem" ini sebenarnya tidak "gelap" karena
ada indra dalam yang "delok-delok",cuma tidak bisa tergambarkan dan
terlukiskan,hanya "merem-merem" itu.Dalam pejaman mata,kita bisa
melihat,delok-delok,,,,Tabik!
Monday, January 12, 2015
Thursday, January 8, 2015
Oo Para Pecinta
Oo Para Pecinta
Oleh Kyai Budi Hardjono
O,para pencinta!
Sampaikan kabar kepada tetanggamu
yang dzikirnya lenyap karena berceloteh hutang negara
yang shalawatnya hilang karena bercerita koruptor-koruptor bangsa
yang jati dirinya musnah karena tak memahami budaya negrinya
yang tindakannya hanya bicara karena sepi pelayanan hidupnya
yang larut dalam upacara-upacara hingga tak tua-tua
yang suka mengkafirkan saudara karena tidak menyaksikan
ketidak-berimannya dalam beragama
yang suka membid'ahkan saudara karena lupa kebid'ahan
:
pada dirinya!
Dan bertanyalah kepada mereka itu
apakah merasa dirinya sempurna
kala mengadili sesuatu di luar sepengetahuan Keseluruhan
sementara segalanya tergerak kepada Yang Esa
bila mereka menjawab "iya"
maka tinggalkan mereka itu seketika
karena itulah hawa nafsu yang dituhankannya
mereka lupa bahwa Yang Sempurna
:
hanya Dia!
O,para pencinta!
Tidak cukupkah penjelasan dibalik dalil-dalil tertulis
yang pasti tidak ada pertentangannya dengan jantera alam semesta
sebagai Kitab Terbuka
itulah "tumbu oleh tutup" adanya
Melihat lukisan tentu pada keindahan yang tergores
bukan pada bingkainya
Menyaksikan intan permata musti pada keelokan pendaran cahaya
bukan pada kotaknya
Memahami keris pasti pada pamor yang dipunya
bukan pada sarungnya
Menatap manusia seharusnya bukan pada jasad bungkusnya
:
namun pada buah pelayanannya!
Tidakkah cukup dengan pernyataan Sang Nabi
bahwa dunia ini ladang akhirat?
Tidakkah cukup dengan kenyataan di negri agraris ini
bahwa benih-benih yang ditanam itu
akan menentukan yang ditunai nantinya?
Tidakkah cukup dengan kesadaran yang teralami ini
adalah jawaban dari yang ditabur masa lalu?
Demikianlah bila tak menunda kebaikan sekarang ini
pasti akan berbuah
:
esok hari!
O,para pencinta!
Simaklah filosofi akar budayamu sendiri
"sopo wonge wani ngAllah bakal luhur wekasane"
ngAllah itu manifestasi rendah hatimu
yang meluluh-lantakkan kepongahanmu
ngAllah itu mabuk cinta walau nampak tolol hidupmu
inilah rahasia Sang Nabi yang "abduhu warasuluh" itu
inilah makna "dewa yang mengejawantah" itu
andai kau raja sekalipun
jangan malu berteman orang-orang jalanan
yang muda dan yang tua
yang baik dan yang buruk
bersama dalam kesadaran sebagai debu
bersama dalam gempita penempaan ini
bersama menikmata segala goresan hidup ini
kelak kau pun akan menjelma
:
intan permata!
O,para pencinta!
Hadirkan di hati derita akan Sang Nabi
di tanah airnya sendiri sampai saat ini
Reguklah sendiri duka laramu di negri sendiri
hingga hari ini
Keyatiman Sang Nabi juga keyatimanmu di sini
Terusirnya dirimu dari tanah dan airmu sendiri
senada dengan perjalanan hidup Sang Nabi ini
namun untuk cita dalam Cinta
semua derita dan luka hati
hanyalah penggiringan kehendakNya
:
terjaga bersama denganNya ini!
Menyelamlah di negri Nusantara ini
kau akan temukan orang-orang yang hina tampak lahirnya
namun luhur maqom drajat di sisiNya
mereka menyembunyikan wajah karena malu di hati
namun setia menanam sebagai kecintaan Sang Nabi
buah-buha pun hadir dimakan dengan kuyub do'a-doa terpuji
dan inilah kecerdasan diri
:
mengubah kebiadaban menjadi peradaban luhur ini!
Siapapun yang datang ke sini
dengan mengusung dialektika sesat dan tidak sesat
tak ada ruang di negri ini untuk itu
karena kesadaran ngAllah lebih kuat di hati
semua keberadaan mengarah ke Yang Satu
semua klaim dan label diri dari secanggih pikiran
hanyalah menunjukkan
:
ketololan lilin di tengah cahaya Mentari!
Subscribe to:
Posts (Atom)