Monday, January 12, 2015
Thursday, January 8, 2015
Oo Para Pecinta
Oo Para Pecinta
Oleh Kyai Budi Hardjono
O,para pencinta!
Sampaikan kabar kepada tetanggamu
yang dzikirnya lenyap karena berceloteh hutang negara
yang shalawatnya hilang karena bercerita koruptor-koruptor bangsa
yang jati dirinya musnah karena tak memahami budaya negrinya
yang tindakannya hanya bicara karena sepi pelayanan hidupnya
yang larut dalam upacara-upacara hingga tak tua-tua
yang suka mengkafirkan saudara karena tidak menyaksikan
ketidak-berimannya dalam beragama
yang suka membid'ahkan saudara karena lupa kebid'ahan
:
pada dirinya!
Dan bertanyalah kepada mereka itu
apakah merasa dirinya sempurna
kala mengadili sesuatu di luar sepengetahuan Keseluruhan
sementara segalanya tergerak kepada Yang Esa
bila mereka menjawab "iya"
maka tinggalkan mereka itu seketika
karena itulah hawa nafsu yang dituhankannya
mereka lupa bahwa Yang Sempurna
:
hanya Dia!
O,para pencinta!
Tidak cukupkah penjelasan dibalik dalil-dalil tertulis
yang pasti tidak ada pertentangannya dengan jantera alam semesta
sebagai Kitab Terbuka
itulah "tumbu oleh tutup" adanya
Melihat lukisan tentu pada keindahan yang tergores
bukan pada bingkainya
Menyaksikan intan permata musti pada keelokan pendaran cahaya
bukan pada kotaknya
Memahami keris pasti pada pamor yang dipunya
bukan pada sarungnya
Menatap manusia seharusnya bukan pada jasad bungkusnya
:
namun pada buah pelayanannya!
Tidakkah cukup dengan pernyataan Sang Nabi
bahwa dunia ini ladang akhirat?
Tidakkah cukup dengan kenyataan di negri agraris ini
bahwa benih-benih yang ditanam itu
akan menentukan yang ditunai nantinya?
Tidakkah cukup dengan kesadaran yang teralami ini
adalah jawaban dari yang ditabur masa lalu?
Demikianlah bila tak menunda kebaikan sekarang ini
pasti akan berbuah
:
esok hari!
O,para pencinta!
Simaklah filosofi akar budayamu sendiri
"sopo wonge wani ngAllah bakal luhur wekasane"
ngAllah itu manifestasi rendah hatimu
yang meluluh-lantakkan kepongahanmu
ngAllah itu mabuk cinta walau nampak tolol hidupmu
inilah rahasia Sang Nabi yang "abduhu warasuluh" itu
inilah makna "dewa yang mengejawantah" itu
andai kau raja sekalipun
jangan malu berteman orang-orang jalanan
yang muda dan yang tua
yang baik dan yang buruk
bersama dalam kesadaran sebagai debu
bersama dalam gempita penempaan ini
bersama menikmata segala goresan hidup ini
kelak kau pun akan menjelma
:
intan permata!
O,para pencinta!
Hadirkan di hati derita akan Sang Nabi
di tanah airnya sendiri sampai saat ini
Reguklah sendiri duka laramu di negri sendiri
hingga hari ini
Keyatiman Sang Nabi juga keyatimanmu di sini
Terusirnya dirimu dari tanah dan airmu sendiri
senada dengan perjalanan hidup Sang Nabi ini
namun untuk cita dalam Cinta
semua derita dan luka hati
hanyalah penggiringan kehendakNya
:
terjaga bersama denganNya ini!
Menyelamlah di negri Nusantara ini
kau akan temukan orang-orang yang hina tampak lahirnya
namun luhur maqom drajat di sisiNya
mereka menyembunyikan wajah karena malu di hati
namun setia menanam sebagai kecintaan Sang Nabi
buah-buha pun hadir dimakan dengan kuyub do'a-doa terpuji
dan inilah kecerdasan diri
:
mengubah kebiadaban menjadi peradaban luhur ini!
Siapapun yang datang ke sini
dengan mengusung dialektika sesat dan tidak sesat
tak ada ruang di negri ini untuk itu
karena kesadaran ngAllah lebih kuat di hati
semua keberadaan mengarah ke Yang Satu
semua klaim dan label diri dari secanggih pikiran
hanyalah menunjukkan
:
ketololan lilin di tengah cahaya Mentari!
Sunday, January 4, 2015
Gema Takbir santri PSM
Takbir keliling salah satu agenda kegiatan santri-santri pondok PSM Takeran dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri.
Dawuhing Guru
DAWUHING GURU
WASIAT MBAH HASAN ULAMA’
![]() |
| Mbah Kyai Hasan Ulama Pendiri Pesantren Takeran |
- Ojo kepengen
sugih, lan ojo wedi mlarat.
- Pilih ngendi,
sugih tanpo iman opo mlarat ananging iman.
- Ojo demen ngudi
pengaruhing pribadi, kang ono di openi kanthi temenan, ojo kesengsem
gebyaring kadonyan, kanuragan lan pengawasan dudu tujuan. Topo ngrame
lakonono.
- Sumber bening ora
bakal golek timbo.
- Ojo demen
owah-owah tatanan poro sepuh, wajibe mung ngopeni lan nglestareake.
- Ojo demen nyunggi
katoke mbahe, amal sholeh tindakno.
- Nyawiji naliki
nindakake kautamaan, pisah ing dalem kemaksiatan, ing tembe bakal ono titi
mangsane, anak putu ono kang nemu emas sak jago gedene, ananging yo mung
kandok sak mono iku imane.
- Ora liwat anak putuku sing guyub rukun, di podo tansah ngrameake mesjid, tak pangestoni slamet ndonyo akhirat.
- Ojo kendat tansah nindak ake mujahaddah taubat, koyo kang wis di parengake guru.
Saturday, December 27, 2014
Bagai Cinta
"Bagai" Cinta
oleh Kyai Budi Hardjono
SEDULURKU TERCINTA, kita mengenal Tuhan hanya melalui TindakanNya yang berwujud Cinta, sejauh para Nabi dan para Rasul serta para Wali maka semua menyatakan bahwa sejauh mereka tahu tentang Tuhan maka mereka "tidak tahu" tentang Dia. Hal ini yang menyebabkan mereka semua dilanda penyakit yang tidak tersembuhkan bagi pencinta yang bernama rindu. Dia Yang Misteri ,Dia yang tak tergambarkan seperti apapun, Dia Yang Tankinoyo Ngopo.Untuk itu, apa yang tergelar pada jantera alam semesta ini adalah tindakan CintaNya, yang semua menjadi penyampai pesan rindu itu. Demikianlah manusia, sejauh yang bisa dilakukan dalam menjawab pesan rindu ke Gusti Allah sebagaimana yang disampaikan para Nabi dan Rasul serta para wali adalah dengan cara berbagi melalui jantera alam semesta ini juga, dengan mencercap sifat-sifatNya atau berakhlak sebagaimana akhlak Dia. Dan akhlak Tuhan ini tercermin pada makhluk sempurna sebagaimana teladan manusia: Rasulullah SAW yang rahmatan lil'alamin ini cinta yang universal.
Tidak sulit memahami akhlak Rasulullah SAW ini bila kita bersedia tafakur terhadap alam semesta raya ini, dimana alam semesta yang bersumber dari Nur Muhammad, dan cahaya itu telah diwujudkan dalam sosok para KekasihNya sampai Khatamil Anbiya': Gusti Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Kalau ada syair "Anta Syamsun" atau Engkau bagai matahari, maka hal yang musti dipahami adalah bahwa cahaya selaksa matahari itu turun untuk siapa dan apa saja tanpa kecuali, cahaya ini menyinari bumi dan apa yang tumbuh di bumi akan mengembang hingga sempurna dalam: bentuk, warna dan aroma. Sehingga apa yang ada ini semua tidak ada yang sia-sia. Demikianlah cahaya Rasulullah saw melalui ajaran-ajarannya, semua tergantung kecerdasan manusia dalam mengapresiasikan ajaran itu. Pohon saja bisa menjadi contoh dalam ketulusan tindakan Cinta, buahnya untuk apa dan siapa saja. Demikian juga bagi bunga, wangi dan keindahan warna menebar untuk apa dan siapa. Sebagaimana hujan dari langit juga bersifat universal dalam berbaginya. Dan bisa dicari sebanyak "bagai" dalam jantera alam semesta untuk menerangkan tentang Cinta.
Sebagaimana juga disebut "Anta Badrun" atau engkau bagai purnama di tengah kegelapan. Purnama, sebagai pantulan cahaya matahari memberikan cahaya di tengah kegelapan. Padahal kegelapan itu sebenarnya disebabkan bumi memunggungi matahari, bayangnnya bernama malam. Tetapi Tuhan tidak pernah membiarkan gelap tanpa cahaya, selain bulan ada bintang gemintang sampai sekecil kunang-kunang. Semua cahaya itu pun bersifat universal dalam aplikasinya. Hal ini memberikan arti bahwa manusia dalam situasi apapun tidak boleh berputus asa dalam harapan karena rakmat Tuhan melimpah tidak terhingga, malah-malah manakala manusia dilanda apapun jenisnya kegelapan hidup, itu musti disadari atas kesalahannya sendiri sebagaimana digambarkan bahwa malam itu karena bumi memunggungi matahari, padahal sebenarnya matahari tidak pernah padam. Kegelapan hidup manusia juga karena kedzalimannya sendiri yang memunggungi cahaya Ilahi dengan "egosentrisitas" dirinya, padahal cahaya Tuhan tidak pernah mandek sama sekali.
Kawan-kawan, cahaya Rasulullah saw tidak pernah akan padam untuk semua manusia, justru cahaya itu bisa berguna atau tidak tergantung kecerdasan kita di dalam apresiasi Cinta, semakin kita mengenal Beliau dengan cara mengenal riwayatnya maka kita akan terpupuk oleh Cinta itu. Tidak aneh bila orang ingin merobohkan cahaya ini tentu dengan strategi memunggungi sejarah beliau dengan cara melarang untuk mengenal sejarah hidupnya. Namun demikian, sekiranya yang melarang untuk mengenal sejarah itu dalam kegelapan maka Rasulullah SAW pun tidak benci kepada mereka karena itu kebodohan mereka sendiri, dan cahaya Rasulullah SAW tidak akan pernah berhenti, bersinar....Tabik!
Piye Jal Cinta
"Piye Jal" Cinta
oleh Kyai Budi Hardjono
SEDULURKU TERCINTA, jangan pernah remehkan Cinta karena Cinta bisa mengubah segalanya. Alkisah, ada seorang penjual minyak goreng di pasar Madinah, setiap kali hendak pergi--termasuk ke pasar, dia selalu melewati rumah Gusti Kanjeng Nabi Muhammad SAW, singgah terlebih dahulu sampai puas memandang wajah Rasulullah SAW. Namun pada suatu saat, dia datang lagi dan Rasulullah SAW terkejut lalu bertanya: "Mengapa kau balik lagi?" Si penjual minyak goreng itu menjawab: "Ya Rasulullah, setelah sampai pasar hati saya gelisah dan saya ingin kembali lagi ke sini. Izinkan saya memandang engkau sebentar saja untuk memuaskan kerinduan saya." Kemudian Rasulullah SAW mengajak berbincang-bincang dengan si perindu itu. Tetapi tidak lama setelah itu, Rasulullah SAW tidak melihat lagi pedagang minyak itu lewat di depan rumahnya. Berhari-hari orang itu tidak lagi kelihatan batang hidungnya di depan Rasulullah SAW. Akhirnya Rasulullah SAW mengajak sahabat-sahabatnya untuk menjenguknya di pasar. Namun diperoleh kabar bahwa orang itu telah meninggal dunia. Rupanya, pertemuan pertemuan sampai dua kali saat itu merupakan isyarat bahwa dia tidak bisa lagi bisa memandang Rasulullah SAW.
Kemudian Rasulullah SAW bertanya kepada orang-orang pasar: "Bagaimana akhlak orang itu?" Mereka menjawab: "Orang itu pedagang yang sangat jujur, cuma ada sedikit kekurangannya, orang itu suka main perempuan." Lalu Rasulullah SAW berkata: "Sekiranya orang itu dalam dagangnya agak lancung sedikit, Gusti Allah akan mengampuni dosanya karena kecintaannya kepadaku." Kecintaan di sini dibuktikan dengan melalui kejujujurannya dalam berdagang. Terus,bagaimana dengan kita-kita yang tidak pernah bertemu dengan Rasulullah saw itu? Satu hal yang tidak boleh kitab lupakan adalah soal kerinduan kita kepada beliau, karena justru beliaulah orang yang justru rindu kepada setiap kita yang walau tidak pernah berjumpa, namun mengimaninya. Rasulullah SAW pernah bersabda: "Alangkah rindunya aku untuk berjumpa dengan sedulur - sedulurku, ikhwani." Sahabat bertanya: "Bukankah kami ini adalah ikhwanmu?" Rasulullah saw menjawab: "Tidak, kalian ini sahabat -sahabatku. Sedulur-sedulurku adalah orang yang tidak pernah berjumpa denganku, tetapi membenarkan dan mengimaniku."
Cinta yang dipupuk dengan kerinduan melahirkan "intimasi" lebih intens, sebagaimana yang kita alami di sini. Soal ampunan karena perjumpaan ini tidak hanya ketika Beliau masih hidup namun sesudah meninggalnya juga, dimana ketika kita berziarah ke makam beliau maka seluruh dosa diampunkan Gusti Allah, salam kita tetap dijawabnya. Namun ketika kita tidak juga bisa berkesempatan untuk ziarah sampai di sana, maka bershalawat adalah bukti bahwa kerinduan kita akan Rasulullah SAW itu nyata. Bahkan pernah Rasulullah SAW bersabda: "Bila orang bershalawat di makamku maka aku pun akan menjawab salamnya, dan bila bershalawat nun jauh dari makamku maka akulah yang mendatangi ke tempat itu." Kehadiran ini pun akan menjadikan dosa-dosa kita akan diampuni. Bahkan Rasulullah saw pernah menyatakan: "Sekiranya seseorang itu melakukan satu saja dari sunnahku, maka hal itu menjadikan Tangan Suci Allah menuntun orang itu menuju surgaNya."
Kawan-kawan, hendaklah kita selalu malu manakala mengucapkan shalawat kepada Rasulullah SAW karena di punggung kita penuh bawaan dosa dan maksiat, tetapi piye meneh kalau tidak berharap akan syafaatnya itu,,, Allahumma Shalli 'Ala Sayyidina Muhammad
Jembut Cinta
"Jembut" Cinta
oleh Kyai Budi Hardjono

SEDULURKU TERCINTA,dalam dunia Jawa banyak kata yang bisa dijarwodosokkan, dimana sebuah kata merupakan singkatan, dan ini hanya sebuah kecerdasan ungkap yang di dunia manapun tidak ada kecuali di Jawa. Pada sisi lain hal itu merupakan hasanah kekayaan bahasa yang menunjukkan lamanya peradaban melintasi zaman, disamping tidak terbantahkan maknanya, aneh tapi nyata. Hal ini menunjukkan dinamika kebudayaan berkembang secara aktif, disamping unik. Dengan ini memberikan gambaran bahwa kebudayaan Jawa merupakan perwujudan dari kemampuan masyarakat Jawa dalam menanggapi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada. Pada titik pemahaman ini, kebudayaan Jawa memiliki ciri-ciri khusus dengan kebudayaan lainnya, terutama dalam hal kejarwodosokkan ini. Misalnya, sebagaimana yang ada di deretan panjang ini, dari berbagai kata, secara acak. Dan untuk yang lain bisa dicari sendiri-sendiri.
Rambut : loro nek dibubut.
Moto : ngemot barang sing nyoto.
Kuping : kaku tur jepiping.
Cangkem : yen ora dicancang ora mingkem.
Piring : sepine yen miring.
Gedang : digeged bar madhang.
Krikil : keri ning sikil.
Rokok : roso sing pokok.
Tani : tiyang agung nagari.
Menungso : menus-menus kakehan doso.
Gelas : yen tugel ora iso dilas.
Dukun : yen ora udu ora rukun.
Dukun : dudu Kun.
Cengkir : kenceng pikir.
Janur : ja'a nuur.
Bajingan : lebar ngaji mangan.
Lhonthe : lonthang-lanthung wae.
Asu : ahli suwargo.
Mantu : barang sing dieman metu.
Morotuwo : moro-moro wis tuwo.
Delalah : ngandel kersane Allah.
Wedang : ngawe kadang.
Wanito : wani di toto.
Jagung : sejo sing agung.
Pacul : barang papat ojo ucul.
Doran : dungo nyang pengeran.
Kalem : sak kal gelem.
Jimin : kaji amin.
Maling : ngemal tur ora eling.
Deling : kandel olehe eling.
Wedok : nek awe dhodhok.
Duren : dudo keren.
Dari berbagai kata ini bisa bermakna serius, bisa gurau, bisa lucu dan konyol. Dan ini bisa menjadi bahan jagong dengan pengembangan singkatan yang sesuka-suka, sesuai dengan latar-belakang pengetahuan penguasaan bahasa Jawa seseorang. Dan tentu masih banyak lagi kata-kata yang dijarwodosokkan, yang kadang-kadang dipakai untuk sindiran-sindiran tertentu, asal sesuai atau "gathuk" itu. Bahkan sampai pada yang "saru-saru" pun bisa mengemuka dalam dunia kejarwodosokkan, dan ini bisa menghasilkan gelak tawa bersama dalam dunia jagong. Memang, memasuki dunia Jawa maka orang musti siap mental karena dalam berkomunikasi tidak sekedar hanya linier tetapi siklikal.
Kawan-kawan, muter-muter uraian ini sebenarnya ada salah satu kata yang "lupa" namun ketika ingat ada salah seorang warga negara Indonesia yang tidak layak mewakili atas bangsa yang konon "relegius" ini, seketika kata itu muncul dalam ingatan, yakni jembut: kejem yen dibubut....Na'udzubillah!
Subscribe to:
Posts (Atom)
