Saturday, December 27, 2014

Ruh Cinta

"Ruh" Cinta

oleh Kyai Budi Hardjono
SEDULURKU TERCINTA, ada seseorang sowan kepada Syeikh Maulana Rumi,namun saat mau masuk diusir oleh beliau,dan seseorang itu menggesa dan menghiba:"Apa salahku ya Maulana,hingga engkau mengusirku?" Syeikh Maulana Rumi menimpali: "Mintalah maaf dulu kepada orang yang kau ludahi kemaren itu?" Seseorang itu menjawab: "Darimana Maulana tahu itu, dan dimana dia aku cari karena kejadiannya di pasar kemaren, dan lagi yang aku ludahi itu orang Nasrani." Syeikh Maulana Rumi menggertak: "Tidak layak kau mengaku Muslim dengan tindakan seperti itu, kau tidak menghargai kemanusiaan, pergilah." Dengan hati berguncang si tamu yang tertolak itu pergi,dan menggesa di hati:darimana Maulana tahu? Dan di mana orang yang telah diludahi itu berada? Lama-lama si tamu itu menangis sepanjang jalan,dan tidak mengira kalau Maulana sampai menolak bertemu gara-gara dia meludai orang Nasrani saat ada percekcokan di pasar itu. Dia menyesal dan mencari dengan bertanya-tanya orang di pasar,di mana si Nasrani itu tinggal. Namun berhari-hari dia mencari tidak ketemu,sampai ke pasar mana-mana,mana-mana pasar.

Seminggu setelah pencarian tidak ketemu si Nasrani yang di ludahi itu,dengan memberanikan diri dia sowan lagi ke Maulana Rumi dan bilang kepada Maulana: "Punten ya Syeikh, saya sudah mencari dia kemana-mana namun tidak aku temukan dimana di tinggal." Maulana Rumi menjawab sembari mengusak dinding depan rumahnya dan terlihat jelas dimata si tamu itu gambar orang yang dicari: "Mata hatimu buta, dia ada di sana dan sedang bekerja untuk keluarganya, pergilah ke sana sekarang." Dengan segera si tamu pamit dan menuju lokasi yang ditunjukkan Maulana Rumi pada dinding rumahnya tadi. Setelah dia bertemu dengan yang diludahi itu, dia bersimpuh dan minta maaf, dimaafkan. Seketika setelah itu,dia kembali ke Maulana Rumi. Disana dia diterima dengan penuh penghormatan sebagaimana tamu-tamu lainnya. Bahkan dia menerima sesuluh dalam banyak hal dari Maulana Rumi,dimana memandang orang itu jangan sebatas pada selubung label hidupnya,tetapi harus dipandang Ruhnya yang tersembunyi dibalik selubung apapun dalam hidup ini, Dia yang cintanya universal itu.

Kisah di atas belum seberapa,lebih jauh lagi kisah saat Rasulullah SAW kedatangan rombongan orang "kafir", rombongan itu dimasukkan di masjid karena banyak sekali,lalu Rasulullah SAW membagi tamu-tamu kafir itu kepada para sahabat untuk menjamunya, namun setelah masing-masing sahabat dapat satu-satu,tinggal satu yang tubuhnya tiga kali orang dan itu bagian Rasulullah SAW. Bahkan mereka semua bermalam. Namun ada kejadian yang luar biasa,dimana orang gendut yang besarnya tiga kali orang itu setelah dijamu Rasulullah SAW, pada malam hari di dalam rumah Rasulullah SAW "kepesing" dan Rasulullah SAW tahu, lalu membukakan pintu dalam kegelapan,dan agar orang itu tidak tahu kalau Rasulullah SAW yang membukakan, Beliau bersembunyi dibalik daun pintu agar si gendut itu tidak menanggung malu. Si gendut keluar dan melanjutkan ngisingnya di luar,ronde kedua. Pagi-pagi setelah Rasulullah SAW berjama'ah subuh, si gendut itu melihat Gusti Kanjeng Nabi Muhammad SAW sedang membersihkan kotorannya, dan sahabat hampir pada ngamuk karena kejadian itu. Namun Rasulullah SAW melarang mereka marah,dan dengan tersenyum saat si gendut dengan merengek meminta biar dirinya yang membersihkan kotorannya sendiri, Beliau bilang: "Ojo,biar aku yang membereskannya, aku yo kepingin golek ganjaran." Hati si gendut rubuh, kekafirannya patah dan berganti dengan iman,disertai seluruh rombongan yang ada.


Kawan-kawan,hanya orang-orang yang tulus yang bisa melakukan hal itu,dimana ketulusan itu bisa termiliki setelah membongkar selubung egosentrisitas, dan yang dipandang hanya Allah,sementara semua adalah milikNya belaka. MencintanNya ternyata musti dibuktikan dengan cara melayani dan menghargai milikNya,apapun sebutan milikNya itu,,,,Tabik!

No comments:

Post a Comment